TENTANG HAID

Published 10 Juni 2008 by indah ilmiah

Punya masalah tentang haid. Waktu itu saya sudah bersih dan sudah
bersuci, tapi selang dua hari saya haid lagi. Saya pikir belum bersih benar, terus saya nggak shalat. Tapi sampai 13 hari kok nggak bersih-bersih ya? Yang saya tanyakan, apakah darah yang keluar disebut darah penyakit dan saya harus tetap shalat? Jika benar, bagaimana dengan kewajiban shalat yang 13 hari itu? Apakah saya harus mengganti dan caranya bagaimana? Tolong dijelaskan secara tuntas ya,

Jawaban:
Akhwati yang mulia, ada tiga macam darah wanita.
Pertama, haid, yaitu darah yang keluar dari kemaluan seorang wanita secara rutin setiap bulan bukan karena sakit atau robeknya selaput dara. Darah haid ini memiliki empat macam warna, yaitu: merah, kehitaman, kekuningan dan keruh. Masanya pun bervariasi: minimal 1 hari penuh dan maksimal 15 hari. Namun antara satu orang wanita tidak sama dengan wanita lainnya dalam durasi haid mereka. Ada yang hanya satu hari dan ada yang sampai 15 hari. Masing-masing wanita menggunakan kebiasaan haidnya secara pribadi dan menjadikannya sebagai standar agar ia bisa membedakan antara darah haid dengan darah istihadah. Bisa juga seorang wanita membedakan keduanya dari aroma yang ditimbulkan oleh darah tersebut.

Kedua, darah istihadah yaitu darah yang keluar dari vagina wanita di luar masa haid dan masa pascapartus (melahirkan). Darah istihadah biasanya berbentuk darah segar yang keluar karena terdapat luka di rahim atau penyakit lainnya. Ia tidak memiliki limit minimal dan maksimal.

Ketiga, darah nifas yaitu darah yang keluar dari vagina wanita setelah melahirkan atau keguguran. Masanya minimal sesaat dan maksimal 40 hari menurut kebiasaan wanita atau 60 hari menurut ilmu kedokteran.

Untuk menjawab kasus anti, saran saya perhatikanlah kebiasaan pribadi anti dalam masa haid, berapa harikah? Kemudian jadikan jumlah hari yang menjadi kebiasaan anti sebagai standar, yang berarti semua darah yang keluar setelah masa itu adalah istihadah sehingga anti tetap wajib shalat. Sedangkan shalat yang anti tinggalkan akibat ketidaktahuan hukum masalah itu, para ulama berbeda pandangan dalam menjawabnya. Di antara mereka ada yang mengharuskan mengganti saat melakukan shalat tertentu. Sedangkan yang lain seperti Imam Ibnu Taimiyah berpandangan bahwa orang itu hendaknya bertaubat dan memperbanyak shalat sunnah untuk menambal kekurangan tadi tanpa harus mengganti setiap shalat akibat terlalu banyaknya jumlah rakaat yang harus diganti dan sempitnya waktu mengganti. Wallahua’lam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: